Dalam rangka mengkoordinasikan
beberapa hal penting dan strategis terkait pengendalian inflasi guna menjaga
stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok menjelang Tahun Baru Imlek 2577,
Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah,
Bagian Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Buleleng menyelenggarakan High
Level Meeting (HLM) TPID Kabupaten Buleleng yang diselenggarakan di Ruang Rapat
Bupati Buleleng, Kamis 12 Februari 2026.
HLM tersebut di buka dan
dipimpin oleh Bupati Buleleng yang didampingi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten
Buleleng beserta Deputi Perwakilan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi
Bali, hadir juga Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Buleleng
serta dihadiri oleh Kejaksaan Negeri Singaraja, Kepolisian Resort Buleleng,
Dandim 1609/Buleleng, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten
Buleleng, Inspektur Daerah Kabupaten Buleleng, Kepala Bappeda Kabupaten
Buleleng, BPS Kabupaten Buleleng, Perum Bulog Propinsi Bali cabang Tangguwisia serta
BUMD dan OPD terkait.
Bupati Buleleng dalam
sambutannya menyampaikan bahwa inflasi merupakan salah satu indikator penentu
keberhasilan pembangunan ekonomi, dengan tingkat inflasi yang tinggi
mengakibatkan daya beli masyarakat menurun terhadap barang dan jasa yang
dibutuhkannya. laju inflasi yang tinggi juga akan memberikan dampak terhadap
peningkatan kemiskinan.
Pembahasan diawali dengan pemaparan
dari perwakilan Bank Indonesia yang menyampaikan tentang profil kabupaten buleleng yang berpengaruh terhadap
kebijakan pengendalian inflasi Kab. Buleleng merupakan salah satu daerah tujuan
wisata utama di Bali, dengan berbagai DTW seperti Pantai Lovina, Pulau
Menjangan, Danau Tamblingan, serta berbagai air terjun dan air panas. Kondisi
ini menyebabkan permintaan pangan di Kab. Buleleng tidak hanya berasal dari
penduduk (828.156 jiwa pada 2024) namun juga non penduduk (wisatawan) yang
jumlahnya 1,58 juta pada 2024. Meskipun luas lahan pertanian Kab. Buleleng
merupakan salah satu yang terbesar di Bali, namun pemenuhan kebutuhan pangannya
masih bergantung pada pasokan dari daerah lain. Sebagai contoh: beras sebagian
pemenuhannya dari Jawa, Jembrana, dan Tabanan; hortikultura dari Karangasem,
Bangli, dan NTB; daging dan telur ayam dari Jawa dan Bangli. Ketergantungan ini
terutama disebabkan oleh dominanya lahan pertanian tadah hujan (non-irigasi),
yang membatasi intensitas dan stabilitas produksi sepanjang tahun. Kabupaten Buleleng
memiliki topografi yang didominasi oleh wilayah dataran tinggi dan hamparan
Kawasan pertanian yang luas. Kondisi geografis ini menyebabkan distribusi
logistik hasil pertanian harus melintasi kawasan pegunungan, sehingga
mengakibatkan biaya logistik hasil pertanian menjadi relatif tinggi untuk
pengiriman ke desa-desa di bagian Utara. Kabupaten Buleleng telah memiliki 2
Perumda (Perumda Argha Nayottama dan Perumda Swatantra) yang perlu terus
dioptimalkan dalam pengendalian harga, misalnya sebagai offtaker hasil panen,
pelaku Kerjasama Antar Daerah (KAD), mitra distribusi cadangan pangan pemerintah,
dan pemasok untuk pasar murah / operasi pasar. Kabupaten Buleleng memiliki
Pasar Anyar dan Pasar Banyuasri sebagai salah satu pasar grosir hortikultura
terbesar di Bali yang sering menjadi acuan harga komoditas di pasar tradisional.
Paparan
terakhir di sampaikan oleh BPS Kabupaten Buleleng dengan pembahasan
tentang Disagregasi Komponen Inflasi yang mencakup Inflasi Inti komponen
inflasi yang cenderung stabil atau persisten dalam pergerakannya dan dipengaruhi
faktor fundamental. Inflasi komponen bergejolak inflasi yang dominan
dipengaruhi oleh shock (kejutan) dalam kelompok bahan makanan. Inflasi komponen
harga diatur oleh pemerintah inflasi
yang dominan dipengaruhi oleh shock (kejutan) berupa kebijakan harga
pemerintah. Pada januari 2026,
kota singaraja tercatat alami deflasi sedalam 0,44 persen secara periode bulan
ke bulan (month to month/m-to- m). komoditas yang dominan
memberikan andil/sumbangan deflasi antara lain: bawang merah, cabai rawit,
cabai merah, pisang, jeruk, salak, bensin, daging babi, jagung manis, dan beras.
Setelah alami Deflasi
pada Januari 2026
sebesar -0,44 persen, Kota Singaraja
berpotensi dan diperkirakan alami inflasi pada minggu ke-1 Februari 2026 secara periode bulan ke bulan (month to month/m-to-m). Hasil pantauan
Survei Harga Konsumen pada Minggu ke-1 Februari 2026,
sejumlah komoditas yang memberi andil
inflasi terbesar secara
periode bulan ke bulan (month
to month/m-to-m), antara lain, cabai rawit, kangkong,
cabai merah, beras, dan emas perhiasan.
Sementara
itu, komoditas yang berpotensi dan diperkirakan memberi andil deflasi
terbesar secara periode bulan ke bulan (month to month/m-
to-m), antara lain bawang merah, bensin, ikan teri, kelapa, dan telur ayam ras.