0362 21985
ekbangsetda@bulelengkab.go.id
Bagian Perekonomian dan Pembangunan

HIGH LEVEL MEETING (HLM) TPID KABUPATEN BULELENG

Admin ekbangsetda | 12 Februari 2026 | 61 kali

Dalam rangka mengkoordinasikan beberapa hal penting dan strategis terkait pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok menjelang Tahun Baru Imlek 2577, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, Bagian Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Buleleng menyelenggarakan High Level Meeting (HLM) TPID Kabupaten Buleleng yang diselenggarakan di Ruang Rapat Bupati Buleleng, Kamis 12 Februari 2026.

HLM tersebut di buka dan dipimpin oleh Bupati Buleleng yang didampingi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng beserta Deputi Perwakilan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bali, hadir juga Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Buleleng serta dihadiri oleh Kejaksaan Negeri Singaraja, Kepolisian Resort Buleleng, Dandim 1609/Buleleng, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Buleleng, Inspektur Daerah Kabupaten Buleleng, Kepala Bappeda Kabupaten Buleleng, BPS Kabupaten Buleleng, Perum Bulog Propinsi Bali cabang Tangguwisia serta BUMD dan OPD terkait.

Bupati Buleleng dalam sambutannya menyampaikan bahwa inflasi merupakan salah satu indikator penentu keberhasilan pembangunan ekonomi, dengan tingkat inflasi yang tinggi mengakibatkan daya beli masyarakat menurun terhadap barang dan jasa yang dibutuhkannya. laju inflasi yang tinggi juga akan memberikan dampak terhadap peningkatan kemiskinan.

Pembahasan diawali dengan pemaparan dari perwakilan Bank Indonesia yang menyampaikan tentang profil kabupaten buleleng yang berpengaruh terhadap kebijakan pengendalian inflasi Kab. Buleleng merupakan salah satu daerah tujuan wisata utama di Bali, dengan berbagai DTW seperti Pantai Lovina, Pulau Menjangan, Danau Tamblingan, serta berbagai air terjun dan air panas. Kondisi ini menyebabkan permintaan pangan di Kab. Buleleng tidak hanya berasal dari penduduk (828.156 jiwa pada 2024) namun juga non penduduk (wisatawan) yang jumlahnya 1,58 juta pada 2024. Meskipun luas lahan pertanian Kab. Buleleng merupakan salah satu yang terbesar di Bali, namun pemenuhan kebutuhan pangannya masih bergantung pada pasokan dari daerah lain. Sebagai contoh: beras sebagian pemenuhannya dari Jawa, Jembrana, dan Tabanan; hortikultura dari Karangasem, Bangli, dan NTB; daging dan telur ayam dari Jawa dan Bangli. Ketergantungan ini terutama disebabkan oleh dominanya lahan pertanian tadah hujan (non-irigasi), yang membatasi intensitas dan stabilitas produksi sepanjang tahun. Kabupaten Buleleng memiliki topografi yang didominasi oleh wilayah dataran tinggi dan hamparan Kawasan pertanian yang luas. Kondisi geografis ini menyebabkan distribusi logistik hasil pertanian harus melintasi kawasan pegunungan, sehingga mengakibatkan biaya logistik hasil pertanian menjadi relatif tinggi untuk pengiriman ke desa-desa di bagian Utara. Kabupaten Buleleng telah memiliki 2 Perumda (Perumda Argha Nayottama dan Perumda Swatantra) yang perlu terus dioptimalkan dalam pengendalian harga, misalnya sebagai offtaker hasil panen, pelaku Kerjasama Antar Daerah (KAD), mitra distribusi cadangan pangan pemerintah, dan pemasok untuk pasar murah / operasi pasar. Kabupaten Buleleng memiliki Pasar Anyar dan Pasar Banyuasri sebagai salah satu pasar grosir hortikultura terbesar di Bali yang sering menjadi acuan harga komoditas di pasar tradisional.

Paparan terakhir di sampaikan oleh BPS Kabupaten Buleleng dengan pembahasan tentang Disagregasi Komponen Inflasi yang mencakup Inflasi Inti komponen inflasi yang cenderung stabil atau persisten dalam pergerakannya dan dipengaruhi faktor fundamental. Inflasi komponen bergejolak inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shock (kejutan) dalam kelompok bahan makanan. Inflasi komponen harga diatur oleh  pemerintah inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shock (kejutan) berupa kebijakan harga pemerintah. Pada januari 2026, kota singaraja tercatat alami deflasi sedalam 0,44 persen secara periode bulan ke bulan (month to month/m-to- m). komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi antara lain: bawang merah, cabai rawit, cabai merah, pisang, jeruk, salak, bensin, daging babi, jagung manis, dan beras.

Setelah alami Deflasi pada Januari 2026 sebesar -0,44 persen, Kota Singaraja berpotensi dan diperkirakan alami inflasi pada minggu ke-1 Februari 2026 secara periode bulan ke bulan (month to month/m-to-m). Hasil pantauan Survei Harga Konsumen pada Minggu ke-1 Februari 2026, sejumlah komoditas yang memberi andil inflasi terbesar secara periode bulan ke bulan (month to month/m-to-m), antara lain, cabai rawit, kangkong, cabai merah, beras, dan emas perhiasan. Sementara itu, komoditas yang berpotensi dan diperkirakan memberi andil deflasi terbesar secara periode bulan ke bulan (month to month/m- to-m), antara lain bawang merah, bensin, ikan teri, kelapa, dan telur ayam ras.